Seminar Lingkungan - Ledakan Penduduk dan Polusi Udara

  • Home /
  • Artikel /
  • Seminar Lingkungan - Ledakan Penduduk dan Polusi Udara

Seminar Lingkungan - Ledakan Penduduk dan Polusi Udara

Climate Institute mengunjungi civitas akademika di kota Malang. Kali ini lebih spesifik berkerjasama dengan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, membahas mengenai ledakan penduduk dan polusi udara dalam seminar lingkungan yang dilaksanakan pada senin, 11 Februari 2019. 

Pesatnya kemajuan ekonomi di kota-kota besar mendorong semakin tingginya aktivitas masyarakat serta bertambahnya kebutuhan transportasi. Peningkatan penggunaan kendaraan bermotor dan konsumsi energi di kota-kota besar berpotensi memperparah pencemaran udara, kemacetan, dan dampak perubahan iklim yang menimbulkan kerugian kesehatan, produktivitas dan ekonomi bagi masyarakat.

Selain memosisikan sebagai Kota Pendidikan, Malang juga tengah memperkuat diri sebagai Kota Pariwisata. Dengan dua predikat ini, Kota Malang menjadi tempat yang menarik perhatian orang untuk datang dan tinggal. Status Malang sebagai Kota Pendidikan dan Wisata menjadi dua sisi mata pisau yang saling bertolak belakang. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, risiko kerusakan lingkungan juga mengancam kota ini.

Pada tahun 2017, tercatat bahwa penduduk Kota Malang sebanyak 861.414 jiwa. Bagaimana dengan penduduk yang tidak tercatat? Mereka ini adalah mahasiswa atau para pekerja. Di Kota Malang sedikitnya terdapat 31 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dari lima kampus terbesar saja (Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Malik Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Islam Malang) jumlah total mahasiswanya sekitar 183.000. Jumlah ini belum termasuk mahasiswa dari 26 kampus lainnya. Belum termasuk pula para pekerja yang tidak terdaftar di dinas kependudukan Kota Malang. Belum termasuk para sarjana yang telah lulus dan tak pulang ke kampung halamannya. Jika semuanya dihitung, bisa jadi prediksi Radar Malang benar, bahwa jumlah penduduk di Kota Malang saat ini sudah mencapai 2 juta orang lebih.

Kota dengan luas 252 kilometer persegi, dihuni oleh sekitar 2 juta orang. Rerata setiap kilometer persegi dihuni oleh hampir delapan ribu orang. Tak heran jika setiap pagi dan sore hari, mobil, sepeda motor, angkutan kota, dan pejalan kaki memenuhi jalanan dan menyebabkan kemacetan. Semakin banyak orang datang dan tinggal di kota ini berarti semakin bertambah pula jumlah kendaraan. Hal ini berujung pada polusi udara yang mengancam keselamatan kehidupan.

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menjadi bukti bahwa kota Malang sedang menghadapi masalah polusi udara. ISPA menempati urutan paling atas dalam 10 besar penyakit yang banyak diderita warga Kota Malang.  Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif menyatakan bahwa kunjungan ke Puskesmas di Kota Malang rata-rata sejumlah 120 orang per hari, dan sebagian besar dinyatakan terjangkit ISPA. Mirisnya, warga yang terserang penyakit ini umumnya berada pada usia balita hingga anak-anak. Husnul Muarif juga menyatakan bahwa ISPA yang diderita oleh warga kota Malang berkaitan dengan kualitas udara. Jumlah penderita ISPA mencerminkan kondisi lingkungan dan polusi udara Kota Malang.

Dinas Kesehatan juga mencatat bahwa dalam kurun waktu tiga bulan (Januari–Maret, 2018) sebanyak 171 warga terkena ISPA. Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Bayu Cahya Wijaya memperkirakan, penderita ISPA Kota Malang pada tahun 2018 adalah sebanyak 2.638 orang. Hal ini berarti terjadi peningkatan sejumlah 292 kasus dari angka tahun 2017 sebanyak 2.346 penderita. Sementara itu catatan tahun 2016 menyatakan bahwa penderita ISPA adalah 2.458 orang. Di antara seluruh wilayah, Kelurahan Kedungkandang, Pandanwangi, dan Mulyorejo adalah tiga lokasi dengan penderita ISPA terbanyak.

Menurut Analisis Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, pencemaran udara kota Malang tidak disebabkan oleh adanya polusi industri melainkan karena kendaraan bermotor. Umumnya lingkungan dengan pencemaran tinggi selalu berdekatan dengan titik kemacetan. Kawasan yang sering menjadi titik kemacetan dengan kualitas udaranya buruk antara lain di daerah Dinoyo, Sawojajar, dan Sukun.

Dampak kemacetan lalu lintas akibat kepadatan jalan pada jam sibuk di Kota malang merupakan faktor terbesar penyebab timbulnya polusi udara. Fardiaz (1992) menyatakan bahwa kendaraan bermotor menjadi salah satu pemicu peningkatan gas dari knalpot yang dapat mencemari udara hingga mencapai 60% dari faktor pencemar udara lainnya. Soedomo (2011) menyatakan bahwa proses pembakaran bahan bakar minyak yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor menghasilkan bahan kimiawi yang mencemari udara, seperti partikulat, karbon monoksida (CO), hidro karbon (HC), oksida-oksida sulfur (SOX), timbal (Pb), oksida-oksida nitrogen (NOX) serta terjadinya peningkatan suhu udara.

Pengamatan kualitas udara dengan parameter bahan pencemar yang diamati berupa karbon monoksida (CO) melalui pertimbangan bahwa pada udara ambien yang terdapat pada daerah padat kendaraan bermotor menjadikan konsentrasi karbon monoksida sebagai parameter paling tinggi yang terdapat di udara. Hal ini diungkapkan pula oleh Wardhana (2004) bahwa perkiraan presentase pencemar udara terbesar dari sumber transportasi di Indonesia adalah pada gas CO yaitu sebesar 70,50%, gas pencemar kedua yaitu HC, NOx, partikel dan SOx,. Keadaan ini disebabkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Dimana menurut Arifin dan Sukoco (2009), 100% konsentrasi emisi CO di udara berkisar 11% merupakan hasil pembuangan dari mesin disel dan 89% berasal dari pembuangan mesin bensin. Menurut Eugene (2003), karakteristik pada CO yang paling penting yaitu kemampuan untuk berikatan dengan hemoglobin sebagai pigmen yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kemampuan ini mengakibatkan pembentukan karboksihemoglobin (HbCO) yang lebih stabil dibandingkan oksihemoglobin (HbO2) sehingga menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh tubuh.

Dibandingkan dengan isu lingkungan lain seperti sampah, pencemaran air dan sungai, pencemaran udara adalah isu yang lebih rumit. Karena permasalahan pencemaran udara sering kali tak kasat mata, maka perhatian publik terhadap isu ini juga minim. Sebagai sebuah perbandingan, untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah Kota Malang membangun Tempat Pembuangan Sampah reduce, reuse and recycle (TPS 3R), program Bank Sampah dan Rumah Pilah Kompos Daur ulang (PKD). Sementara itu, upaya untuk mengatasi pencemaran udara belum tampak nyata. Sementara dampaknya, penderita penyakit ISPA terus meningkat dan berlipat ganda.

Pencemaran udara memang masalah yang sangat pelik. Untuk mengatasi satu masalah ini pemerintahan harus mendayagunakan kewenangan dinas kependudukan, dinas kesehatan, dinas perhubungan, PU Bina Marga dan Cipta Karya, dinas perumahan, dinas perindustrian, badan perizinan, dinas pertamanan serta lingkungan hidup.

Jika sebanyak itulah yang harus dikerjakan oleh pemerintah, sebagai pemuda, sebagai mahasiswa yang turut menyumbang kemacetan dan polutan, apa yang akan kita kerjakan? Mari berkontribusi, memastikan keberlanjutan kenyamanan bagi Malang, Kota Wisata dan Pendidikan.

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar