Review Film: Chasing Coral, Film Dokumenter taste Drama Korea

  • Home /
  • Artikel /
  • Review Film: Chasing Coral, Film Dokumenter taste Drama Korea

Review Film: Chasing Coral, Film Dokumenter taste Drama Korea


Kenapa harus berhenti karena usia, saya akan terus menyelam sampai saya pikun.”–Dr. Charlie Veron


Kali ini aku bakal bahas salah satu film dokumenter yang rilis tahun 2017 ini, tepatnya tanggal 14 Juli lalu, Judulnya Chasing Coral. Jadi ceritanya aku minggu ini ikut sebuah pelatihan blogging yang diadakan salah satu NGO pemerhati perubahan lingkungan, Climate Institute, bekerja sama dengan Fredrich Neumann Stiftung, salah satu NGO Internasional asal Jerman. lha, pas pelatihan tersebut aku dan temen-temen dari seluruh daerah di Indonesia yang jumlahnya ada 30 orang berkesempatan menonton salah satu film bertema lingkungan yang bakal aku review kali ini,yaitu Chasing Coral.
Film berdurasi 93 menit ini berhasil membuat sudut pandanganku mengenai laut, BERUBAH! So, perlu aku jelasin, bahwa sebenarnya aku bukanlah seorang yang suka dengan laut, cenderung takut, tidak bisa berenang. Jadi bisa dibilang wawasanku mengenai laut itu sekita 0,000 sekian persen. Namun setelah nonton film ini, WOW!!! Ternyata gini ya laut itu. Batinku.



Salah satu yang paling mengejutkan bagi aku adalah fakta bahwa terumbu karang merupakan tumbuhan, sekaligus hewan, bukan sekedar batu dibawah air guys, soubah mindset kalian. Juga kerusakan terumbu karang di laut ternyata tidak saja disebabkan oleh orang-orang yang terlibat langsung dengan lautan, seperti masyarakat pesisir dan nelayan, namun masayrakat daratan, seperti aku dan kalian guys. Lho kok bisa? Ya bisa lah, asap knalpot, asap pabrik, sampai asap rokok yang kalian sedot tiap hari itu membuat atsmosfer kita ini tambah panas, dan juga berakibat tidak langsung dengan air di lautan. Dan berhubung terumbu karang adalah makhluk yang sensitive, kaya cewek, dia gampang mati dengan kenaikan suhu bumi yang semakin memanas. So, keep your green behavior gengs!!!
Emosi penonton akan diulik sedemikian rupa, seakan film ini adalah sebuah film drama Korea. Dan ketika penonton sadar bahwa ini merupakan realita sebenarnya dari lautan yang kita punya, disitu klimaks disajikan. Semakin menarik ketika usaha kampanye tim film tersebut sangat sulit terealisasi. Kegagalan bertubi datang, dan effort baja yang dipancarkan oleh para aktor dalam upaya penyelamatan terumbu karang menjadi sajian menarik dalam film ini.


Yang paling mengisnpirasi adalah pas adegan salah satu pegiat terumbu karang yang sudah menghabiskan duapertiga hidupnya hanya untuk melestarikan karang, yaitu Dr. Charlie Veron dari Australia. Dia ngomong kalimat sakti seperti yang aku kutip di awal artikel.  Dan ketika Dr.Veron ngomong dengan begitu semangatnya, ada manusia lain di sisi Bumi entah dimana sedang buang sampah sembarangan, atau sedang update status Instagram di pinggir pantai nulis gambar “Budi LOVE Siti” tanpa sadar bahwa lautnya sedang dalam keadaan sekarat. Hadehhhh……

images (1)_1511615262419Salah satu gambar dari film Chasing Corak, menggambarkan perubahan yang terjadi pada terumbu karang hanya kurang dari dua bulan.

So, kalian semua guys, baik yang di darat maupun di laut, yang di gunung maupun di lembah, anak jaman dulu maupun jaman now, aku saranin untuk nonton film Chasing Coral ini. Nggak mungkin nyesel, daripada nonton sinetron balapan nggak jelas. Di IMDb film ini mendapat nilai 8.2, lebih bagus nilainya dari film film Justice League keluaran DC baru-baru ini. Bahkan saking bagusnya Chasing Coral ini, sampai diganjar 13 nominasi film internasional, 4 diantaranya menang. Happy Cinema!


Ditulis oleh Zul, Alumni Climate Institute
Tulisan ini dapat diakses juga di https://yourwonderstory.wordpress.com


Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar