Komitmen Negara dan Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Penangangan Perubahan Iklim dan SDGs

  • Home /
  • Artikel /
  • Komitmen Negara dan Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Penangangan Perubahan Iklim dan SDGs

Komitmen Negara dan Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Penangangan Perubahan Iklim dan SDGs

Komitmen Negara dan Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Penangangan Perubahan Iklim dan SDGs

Oleh: Rifqi Fadhlurrakhman (UNPAS - IYTCC Angk. 1)


Sustainable Development Goals (SDGs) adalah seperangkat tujuan universal, target dan indikator yang di adopsi oleh negara-negara anggota PBB dan di harapkan menjadi agenda pembangunan global selama 15 tahun kedepan. Di dalam SDGs, terdapat 17 poin penting yang merupakan program untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, mulai dari pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, penanganan perubahan iklim, sampai strategi kemitraan dalam mewujudkan SDGs yang optimal.

SDGs tidak lain merupakan kelanjutan dari Milenium Development Goals (MDGs) yang telah berlangsung sejak tahun 2000 dan akan berakhir pada akhir tahun ini. SDGs sendiri baru pertama kali di bahas secara resmi dalam forum United Nations Conference on Sustainable Development (Rio+ 20) di Rio de Janeiro pada Juni 2012.

Penanganan Perubahan Iklim menjadi salah satu dari 17 poin penting atau tujuan dalam SDGs. Seperti yang kita ketahui,  banyak kalangan yang menganggap bahwa perubahan iklim hanyalah isu politik karena masih ada masalah lain yang lebih besar dari itu. Namun seiring dengan pembuktian ilmiah yang kita terima, menyatakan-bahwa bumi yang kita tinggali di dalamnya benar-benar berubah, seperti meningkatnya suhu bumi, mencairnya tudung es di kutub, kekeringan yang berkepanjangan dan masih banyak lainnya. Dan hal itu tidak bisa dilepaskan aktivitas manusia selama ini.

Berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi dimasa depan sudah bisa diprediksi, bukan hanya perubahan fisik bumi, tetapi sistem sosial, keamanan dan kesehatan manusia pun  ikut terancam. Namun, tentu belum terlambat untuk melakukan sesuatu. Kita bisa mendorong pemerintah untuk mencari jalan keluar dari penggunaan energi yang tidak efisien. Karena selain di hadapkan pada krisis energi di masa depan,  sebagian besar energi saat ini berasal dari sumberdaya energi fosil yang dalam penggunaannya menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Langkah yang bisa diambil terkait energi fosil dan masalah yang ditimbulkannya adalah mengoptimalkan energi terbarukan, seperti energi matahari, tenaga angin, tenaga air, dan panas bumi. Namun sampai saat ini, kita belum melihat keseriusan pemerintah terkait kebijakan-kebijakan untuk menggenjot pengembangan energi terbarukan.

Terkait energi geothermal, Indonesia memiliki 40 % cadangan panas bumi dunia dan pemerintah belum memanfaatkannya secara optimal, hal itu dikarenakan selama ini pemerintah masih memandang energi terbarukan sebagai energi alternatif.

Memang, terkait masalah kebijakan tidak semudah kita membicarakannya. Negara berkembang seperti Indonesia di hadapkan pada tantangan berat. Di satu sisi, pemerintah mempunyai ambisi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, di hadapkan pada komitmen untuk ikut berpartisipasi dalam agenda pembangunan internasional. Hal ini memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali, bagaimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekologis berjalan secara integral.

Selain pada ranah domestik dan yang paling penting, berkaitan dengan poin Penanganan Perubahan Iklim dalam SDGs, adalah komitmen semua negara. Dengan prinsip “leave no one behind”, negara-negara industri harus mampu mendorong dan memfasilitasi negara berkembang untuk mencapai tujuan yang telah dirancang bersama. Pemerintah setiap negara harus bisa menyelaraskan kebijakan di level domestik dengan agenda pembangunan internasional.

Kemudian, yang tidak bisa di lewatkan begitu saja, dan hal paling kompleks dari setiap perbincangan tentang perubahan iklim adalah ; bagaimana masyarakat melihatnya sebagai sesuatu yang nyata dan benar terjadi. Peran elemen masyarakat sipil yang konsen pada isu perubahan iklim menjadi penting disini, karena pertempuran opini di luar sana, sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat.

Disamping terus mendorong negara untuk memiliki political willdalam tujuan pembanganunan berkelanjutan, elemen masyarakat sipil juga harus proaktif dengan membangun pemahaman mengenai isu perubahan iklim melalui kampanye dan aksi nyata mulai dari tingkat akar rumput.

Penulis adalah Editor @CSS Journal dan Peserta Youth Camp on Climate Change, IYTCC 2015

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar