Climate Vlogger 2019 Road to Solo

Climate Vlogger 2019 Road to Solo

Berbeda dengan konten lainnya, kita butuh strategi khusus untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan dan perubahan iklim agar lebih diterima banyak orang. Hal ini ditegaskan Adhitia Lanae (@adhitlan) dalam lokakarya Climate Vlogger 2019 di Solo.


Dalam kesempatan tersebut Adhit menuturkan bahwa Everybody is An Influencer. Paling tidak untuk keluarga atau teman-teman kita. Tinggal bagaimana kita memosisikan diri, apakah mau menyebarkan hal positif atau negatif. Menjadi seorang influencer butuh personality yang kuat dan konsistensi yang tinggi, karena apa yang kita pakai dan pegerakan yang kita lakukan harus pro terhadap lingkungan.

Kemudian, ada 5 hal yang sebaiknya dimiliki dan dijaga oleh seorang millennial influencer yaitu attitude, creative, innovative, learn & action. Dengan menjaga kelima hal ini maka dia akan mampu mempertahankan eksistensinya dan disukai banyak orang.


Detilnya kegiatan ini berlanjut hingga ke wawasan dan teknis pengambilan gambar serta filosofi karya influencer, Pascal Meliala (@pascalitoos), Director dari rumah produksi XD Entertainment, yang berperan sebagai narasumber selama pelatihan mengatakan, “Membuat video dengan teknik baik, bisa dipelajari dengan sangat mudah dengan bantuan internet, tetapi menjadi video maker yang memiliki nilai-nilai yang baik buat orang banyak, butuh integritas tinggi dan empati pada keadaan sekitar yang mana tidak bisa hanya di pelajari dari internet.”


Selama tiga hari pelatihan, Pascal berkomentar lebih lanjut, “Saya melihat orang-orang yang tidak hanya berintegritas tetapi juga mau belajar dan memulai untuk membuat video yang lebih baik agar dapet menyebarkan nilai-nilai yang baik ke masyarakat luas saat acara Climate Vlogger III!”


sesi yang berbeda, Paulista Bunga Surjadi, Communication Specialist dari Kota Kita – sebuah Yayasan yang berfokus pada perencanaan kota dan partisipasi masyarakat di Solo, menyebut pentingnya rasa “kewargaan” dalam menangani isu-isu perkotaan, mulai dari urbanisasi hingga dampak perubahan iklim yang mungkin terjadi. Kewargaan adalah salah satu prinsip kerja Kota Kita. Dikatakannya, “Kewargaan adalah menyangkut bagaimana kita menalar diri – mengenai relasi kita, dengan ruang hidup dimana kita berada. Sebagai warga kota, setiap individu mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap kotanya.” Salah satu meode inovatif dalam memahami permasalahan kota adalah analisa nilai kearifan lokal bersama penduduk sekitar. Dari aktivitas Kota Kita, terlihat bahwa participatory design dengan warga sangatlah penting untuk mengidentifikasi kebutuhan dengan realita di lapangan, menghilangkan relasi kuasa antara pemerintah dan warga, sehingga kolaborasi berbasis fakta dan data dapat tercipta.


Kegiatan ini berisi dengan isu penting dalam memahami perubahan iklim dan langkah yang harus kita ambil. Berlangsung di Ramada Hotel Solo pada tanggal 25 sampai dengan 27 Januari 2019, mengusung tema "Millennials, Lifestyle & Climate Change," sebanyak 20 orang peserta yang terdiri dari pemuda/i yang terpilih melalui seleksi kemudian terlibat aktif dalam lokakarya yang mendorong kepedulian terhadap perubahan iklim. 


#climatevlogger2019 #climateinstitute


Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar