Climate Jurnalisme “Sebuah Seni Mengabarkan Krisis Perubahan Iklim”

  1. Home
  2. Artikel
  3. Climate Jurnalisme “Sebuah Seni Mengabarkan Krisis Perubahan Iklim”
Climate Jurnalisme “Sebuah Seni Mengabarkan Krisis Perubahan Iklim”

Climate Jurnalisme “Sebuah Seni Mengabarkan Krisis Perubahan Iklim”

Last Events Jum'at, 21 Agustus 2020

Oleh Aljunaid Abdul Kadir Bakari


Fenomena Perubahan Iklim (Climate Change) telah menjadi problem serius bagi masa depan dunia, ancaman krisis perubahan iklim ini lantas memaksa perhatian dunia untuk sama-sama memikirkan solusi atas fenomena krisis yang berdampak global dan mengancam semua lini kehidupan manusia. Sampai dengan saat ini setidaknya terdapat 3 (tiga) instrumen hukum internasional sebagai wujud perhatian dunia terhadap fenomena ini dalam skala international antara lain yaitu: pertama, United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) disusun pada Konvensi Rio 1992, mulai berlaku secara hukum pada 21 Maret 1994, diratifikasi oleh 197 negara. Indonesia meratifikasi UNFCCC melalui UU 6/1994. Konvensi ini bertujuan menstabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang dapat mencegah gangguan antropogenik berbahaya pada sistem iklim.

Kedua, Protokol Kyoto merupakan perjanjian internasional turunan dari UNFCCC yang diadopsi pada konferensi para pihak ketiga (1997) dan mulai berlaku secara hukum pada 16 Februari 2005, diratifikasi oleh 191 negara. Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU 17/2004. Konvensi ini bertujuan membatasi emisi negara-negara maju, karena negara maju dianggap bertanggung jawab atas tingginya tingkat gas rumah kaca. Tetapi konvensi ini tidak menutup kemungkinan bagi negara berkembang untuk berkontribusi dalam pembatasan emisinya. ketiga, pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change atau yang sering disingkat Paris Agreement yaitu kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam Paris Agreement untuk berkomitmen menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2°C dan melanjutkan upaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1.5°C di atas suhu masa pra-industrial. Beberapa wujud komitmen tersebut berupa penurunan gas emisi, pencegahan deforestasi dan pengerusakan lingkungan, serta biodiesel 30% dan minyak nabati 60%.

Faktanya kesepakatan-kesepakatan internasional tersebut belum berdampak signifikan terhadap fenomena-fenomena krisis iklim, hal ini teridikasi dari terus meningkatnya temperatur dunia akibat produksi dan konsentrasi sejumlah gas kimiawi secara terus-menerus. Berdasarkan laporan World Meteorological Organization (WMO), terjadi peningkatan konsentrasi CO2 pada tahun 2018 sebesar 407.8 ppm, dibanding tahun sebelumnya yakni sebesar 405.5 ppm. Selain CO2, gas Metana dan Nitrous Oksida pun mengalami peningkatan konsentrasi. Konsentrasi gas Metana bersumber 40% dari sumber alami, dan 60% dari aktivitas manusia.

Dalam pada itu, menjadi sangat urgen untuk terus berinovasi tanpa harus tergantung sikap poltik negara dalam menyikapi krisis iklim ini. Krisis iklim pada dasarnya adalah krisis yang pasti bermuara pada problem-problem kemanusiaan, pada titik ini, sangat penting melakukan langkah-langkah inovatif dengan berbagai pendekatan yang dapat meyakinkan dan memberikan pemahaman aksi-aksi adaptasi dan mitigasi yang kongkrit dan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Salah satu pendekatan yang menjanjikan dan mampu mengarusutamakan isu keadilan iklim adalah edukasi masyarakat melalui tulisan persuasif dengan gaya populer; dimana didalamnya mengedepankan pemberdayaan masyarakat, tindakan individu untuk berkontribusi pada masalah keadilan iklim, dan menceritakan pengalaman sukses dalam melakukan intervensi perubahan iklim.

Mengapa hal ini penting untuk dilakukan? Karena kita memang membutuhkan tindakan kolektif untuk mendorong perubahan sistem yang ingin kita lihat. Kita dapat mendorong perubahan itu ke depan dengan mengangkat kisah-kisah positif, bersama-sama menciptakan solusi yang membentuk kenormalan baru, dan bekerja menuju lingkungan yang sehat dan dapat menjadi panutan membentuk sebuah sistem saling menghargai dan mencerminkan bahwa perilaku ini sebagai hal yang diinginkan secara sosial.

Selama ini penjelasan tentang perubahan iklim selalu memperlihatkan peringatan akan adanya bahaya besar di masa depan. Berita-berita perubahan iklim dipenuhi dengan referensi tentang memburuknya kebakaran hutan, mencairnya gletser, hingga naiknya permukaan air laut. Membaca narasi-narasi tentang krisis perubahan iklim yang beredar mainstream saat ini tak ubahnya ibarat membaca komik siksa neraka yang beredar sekitar tahun 1990-an awal, yang menjadi bacaan anak-anak SD waktu itu. Menakutkan!!! Hal ini tidak sepenuhnya salah namun, penekanan pada malapetaka dan kesuraman ini cenderung dapat membuat orang merasa tidak berdaya dan putus asa untuk dapat membuat perubahan. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Climagte Acces lembaga riset yang berfokus kepada solusi perubahan iklim menyatakan bahwa “pesan-pesan yang berisi ancaman mampu menangkap perhatian publik. Namun, rasa khawatir bukan motivator yang efektif untuk mendorong publik melakukan tindakan yang nyata dan merubah perilaku. Hal tersebut justru membuat mereka pasrah dan merasa tidak berdaya.”  


Climate Jurnalism: Strategi Menyuarakan Krisis Perubahan Iklim melalui tulisan popular

            Sebagai wujud komitmen terhadap perubahan iklim Climate Institute memandang penting untuk terus mendorong wacana-wacana perubahan iklim ini dengan memberikan sentuhan seni pemberitaan dengan gaya yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan “Doom and Gloom” yang selama ini menjadi arus mainstream wacana perubahan iklim terasa jauh dan tidak solutif karna tidak dapat menjangkau seluruh level lapisan masyarakat sehingga wujudnya menjadi tidak kongkret.

            Untuk kepentingan ini Climate Institute telah menginisiasi pewacanaan pendekatan penulisan popular melalui webinar yang bekerjasama dengan Friedrich Nauman Foundation (FNF) Indonesia, Kementrian Hukum dan Ham RI, serta Institute Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Pendekatan ini diarasa tepat untuk mengajak generasi anak muda yang mungkin mengetahui isu perubahan iklim pada tulisan atau berita sepintas pada televisi, namun belum diberikan ruang yang memupuk rasa keterlibatan yang mendorongnya secara individu atau secara kolektif untuk turut berkontribusi pada upaya penanganan perubahan iklim. Hadir sebagai panelis dalam kegiatan ini Denia Isetianti CEO Cleanomic, Haifa Inayah CEO Catch Me Up, Hans Nicolas Jong Jurnalis Mongabay Indonesia, mereka adalah para anak muda keren, influencer yang telah cukup sukses menjadikan wacana-wacana perubahan iklim ini sebagai habitus laku keseharian.

            Beberapa poin penting yang menjadi simpulan dari webinar ini, merekomendasikan strategi mengabarkan krisis perubahan iklim yang berfokus pada solusi hal ini merupakan sebuah seni mengabarkan krisis perubahan iklim dengan lebih soft, tidak hanya melaporkan permasalahan perubahan iklim itu sendiri namun dengan mengabarkan dan menunjukkan solusi-solusi apa saja yang berhasil dicapai berdasarkan bukti-bukti kongkret. Model ini dianggap dapat menjadi alternative pemberitaan yang dapat meningkatkan minat public terhadap subjek dari krisis perubahan iklim. Hal ini didsarkan atas refleksi pola Doom and Gloom yang lebih fokus mengabarkan fakta-fakta perubahan iklim. Alih alih dengan mengabarkan fakta dapat membangunkan dari sikap tidak acuh terhadap dampak perubahan iklim, nyatanya semakin banyak fakta krisis iklim yang diketahui tidak menjadikan lebih banyak yang peduli terhadap bencana ini.

Asumsi selama ini, bahwa dengan mengetahui fakta-fakta mengenai perubahan iklim maka masyrakat akan semakin peduli adalah asumsi yang keliru. Faktanya seorang perokok aktif setiap kali membeli rokok selalu disuguhkan fakta pada bungkusnya bahwa merokok dapat membunuhmu, merokok mengancam kesehatan dan sebagainya namun hal itu tetap tidak menjadikan dia berhenti merokok dan tetap membeli lagi jika rokoknya habis.


Mempopulerkan Habitus Laku Positif Solusi Kongkrit Krisis Perubahan Iklim

            Terdapat banyak alasan mengapa semakin banyak fakta perubahan iklim yang diketahui tidak serta merta meningkatkan kepedulian terhadap wacana ini, mengapa para stakeholder, politisi enggan berbicara lebih jauh terkait perubahan iklim, dikarenakan isu perubahan iklim ini dianggap terlalau jauh dari kehidupan sehari-hari atau mereka merasa perubahan yang dilakukan tidak terlalu terlihat hasilnya bagi kehidupan mereka. Sebagaimana kabar di kitab-kitab suci bahwa perbuatan baik akan mendapat imbalan surga dan perbuatan jahat mendapat imbalan neraka tetap saja angka kriminalitas tetap tinggi. Wacana surga dan neraka ini sama seperti ancaman rokok dan ancaman perubahan iklim yang nanti terjadi di masa depan dimana tidak ada satupun individu yang telah merasakan masadepannya karenanya hal ini dirasa sangat jauh dari kehidupan sehari-hari. Dimana setiap hari tiap-tiap individu pasti disibukkan dengan urusan-urusan domestiknya.

           Dengan demikian, wacana-wacana perubahan iklim harus dikelola dan dikemas sedemikian rupa untuk sedekat mungkin dengan keseharian masyarakat, salah satu cara yang efektif adalah dengan menjadikan laku positif atas perubahan iklim ini menjadi habitus laku yang popular di kalangan masyarakat sehingga bisa dianut dan menajdi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di era 4.0 ini peluang untuk mengkampanyekan hal ini menjadi sangat mungkin atas intersvensi teknologi informasi dan komunikasi. Boomingnya K-Pop saat ini dapat menjadi contoh kongkrit yang dapat diadaptasi untuk mewabahkan perilaku-perilaku positif untuk perubahan iklim.

Mongabay, Cleanomic, Catch Me Up, yang menjadi panelis dalam webinar Climate Institute merupakan sedikit dari Lembaga-lembaga yang telah cukup berhasil meniti langkah ini, Model jurnalisme yang ditempuh lembaga-lembaga ini jauh berbeda dari yang ditawarkan oleh pemberitaan iklim konvensional yang cenderung muram dan suram, dengan kompleksitas tinggi sehingga sukar dipahami. Sebaliknya dengan mengabarkan contoh-contoh yang baik, ringan dengan ajakan inspiratif dari insiatif dengan melihat aksi-aksi sukses yang telah berhasil dilakukan.


img-1599305947.jpg



Untuk peserta yang ingin mendapatkan materi pada webinar kali ini dapat mengunduh file presentasi melalui link berikut:

http://tiny.cc/webinar19082020

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar